Senin, 18 Oktober 2010

SUARA PEMBARUAN DAILY



Festival Budaya Anak Pinggiran


Pak Presiden Ada Waktu untuk Datang?

SP/Posman Sianturi
Tiga pengamen lengkap dengan alat musik, seperti contrabass, mini-drum, perkusi, menghibur penumpang kereta di KRL Jabotabek Jakarta-Bogor.
nak-anak pinggiran itu menanti kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka mengharapkan kehadiran pimpinan negara itu dalam kegiatan mereka. Menanti kesediaan SBY untuk menerima langsung sepucuk surat mereka yang selama ini "bekerja" sebagai pemulung, pengamen dan anak-anak jalanan lainnya.
Nama kegiatan mereka Festival Budaya Anak Pinggiran (FBAP) Jabodetabek. Tema sudah dipilih. Ekspresi Anak Pinggiran: Perjuangan Melawan Keterbatasan. Waktunya, 13-15 Juli. Lokasi, Taman Tugu Proklamasi Jakarta. Tentu saja mereka tidak mampu menyewa gedung pertunjukan atau hotel-hotel mahal untuk kegiatan itu.
Dijadwalkan, selama tiga hari para peserta festival akan menampilkan tarian, nyanyian, lukisan dan foto yang berkaitan langsung dengan kehidupan mereka. Kehidupan yang membuat mereka sering disebut anak pinggiran.
Dalam dialog di sanggar Ciliwung Merdeka di pinggir sungai Ciliwung, di kawasan Bukit Duri, Tebet Jakarta Selatan, Selasa (15/5), mereka tampak gembira mempersiapkan kegiatannya. Kegembiraan mereka berbaur dengan sedikit sinisme pada Pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta.
Di sisi lain, mereka ragu gubernur Jakarta mendatang punya ketulusan pada nasibnya. Pengalaman mereka yang pahit saat inilah yang melahirkan sinisme itu. Mereka yang punya orang tua menyaksikan betapa orang tua mereka gagal mewujudkan impian mereka sebagai anak-anak. Pekerjaan orangtua mereka tidak menentu. Dampaknya mudah diterka. Jangankan bermain dengan nyaman, untuk sekolah pun, orang tua mereka gagal menyediakan uang sekolah.
Jangan ditanya sikap anak pinggiran yang tidak punya orang tua. Sebagai pemulung atau pengamen, mereka merasakan langsung ketidakramahan institusi negara. Sinisme mereka bisa dimengerti.
"Mereka tidak perlu datang. Kami tidak mau dijadikan alat untuk kepentingan mereka (calon gubernur-Red)," kata seorang anak.
Lalu jika calon gubernur ditolak, mengapa mereka menanti kehadiran presiden. Ternyata, dalam pandangan anak-anak pinggiran, presiden masih dianggap sebagai sosok pimpinan negara yang bisa membantu mereka.
Pada saat yang sama, anak-anak pinggiran ternyata realistis. Mereka tahu presiden pasti sibuk. Mengurus negara atau sibuk dengan rapat-rapat panjangnya dengan para tokoh politik.
"Mungkin lima menit atau lebih dikit deh. Gak ngobrol juga tidak apa-apa. Nonton pentas kami sebentar saja. Masa hanya acara-acara besar dan mewah saja yang didatangi presiden. " kata Benedicta Stephani Iriana, Ketua Panitia FBAP 2007, mewakili teman- temannya.


Ceria
Begitulah, festival di depan mata. Para anak-anak pinggiran dan pendampingnya terus mempersiapkan acara Di sanggar Ciliwung Merdeka usai ngobrol santai, sebagian daari mereka ada yang langsung memainkan gitar dan bernyanyi. Sejumlah anak yang berasal dari berbagai komunitas di seputar Jabodatabek akrab bercakap-cakap.
Beberapa di antara mereka berasal dari komunitas Sanggar Anak Roda (SAR) dari kawasan Pulo Gadung dan komunitas Rumah Kita yang "bermarkas" di bantaran kali Cisadane di daerah Bogor. Ada juga anak-anak dari Solidaritas Anak Jalanan untuk Demokrasi (SALUD) yang sering mangkal di sekitar masjid Istiqlal, Stasiun Gambir dan seputar Monas.
Mereka mungkin belum menemukan format tarian, nyanyian dan lukisan untuk festival mendatang. Padahal, teman-teman mereka yang menjadi koordinator kegiatan sudah menentukan sub tema untuk acara itu yakni, Bagaimana Aku Melihat Hidupku.
Tapi jika merajuk pentas dan karya anak pinggiran selama ini, rasanya mereka pasti mampu menampilkan sesuatu yang memikat. Masalahnya mungkin hanya pada kesiapan SBY untuk hadir pada acara mereka.
Sungguh, mereka pasti akan senang jika presidennya yang sangat teratur bicara mau hadir dalam acara mereka. Apalagi jika kemudian presiden mampu memperbaiki nasib anak-anak pinggiran. [A-14]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

berpetualang dengan menulis