Senin, 18 Oktober 2010
Demokrasi yang secara simultan diikuti bangkitnya masyarakat sipil indonesia
Di tengah menggejalanya Krisis multi-dimensi saat ini,di awali dari krisis pada tahun 1997. dan di susul terjadinya suatu rentetan permasalahan konflik sosial yang tlah terjadi pada masyarakat, serta praktik ekploitasi dalam konteks tiap-tiap penindasan yang di alami Rakyat miskin dan terus terjadi dalam sejarah penindasan secara sistematis dan terorganisir seperti penggusuran Pedagang Kaki Lima/rumah-rumah yang di anggap Liar, penangkapan(penertiban), yang cendrung dengan kekerasan dan terkadang di selesaikan tanpa ada ruang celah permasalahan(solusi) agar penyakit masyarakat miskin bisa memiliki ruang tatanan sosial yang di mana bisa di selesaikan dengan cara perdamaian dan kaum-papa mendapatkan Hak-haknya, serta melibatkan intensitas Masyarakat/warga sekitar, agar kelak ada permasalahan yang memiliki solusi, bukan dengan cara-cara kekerasan yang setiap hari terpampang jelas di wajah publik, tradisi kekuasaan Represif dengan tangan besi, bukanlah suatu tindakan yang bisa menyelesaikan masalah kemiskinan, yang tidak menyentuh inti persoalan yang di hadapi rakyat pekerja di indonesia saat ini. Pengangguran, tindak Kriminal, premanisme, yang di sebabkan tak ada lapangan kerja alternatif, atau msyarakat yang ingin membuka lapangan kerja alternaif-pun trasa sulit. Krena PEMDA-OTONOMI DAERAH cendrung lepas tanggung jawab atas permasalahan ini?
Kehadiran sebuah organisasi rakyat miskin yang menegaskan dirinya sebagai Anti-tesa terhadap kenyataan politik kekuasaan tersebut tidak bisa di tawar-tawar lagi, kerena semua itu adalah harga mati bagi sebuah eksistensi perjuangan Rakyat pekerja, dengan semangatnya, ia adalah masyarakat yang hilang atas dasar HAM serta Hak-konsistusional saat ini. organisasi yang di mana mampu mendefinisikan kebutuhan pokok dasar perjuangan rakyat miskin atas historis (sejarah) yang menakutkan untuk sadar dalam konteks ketertindasannya masing-masing, untuk melawan segala keterbatasan ruang keadilan sosial yang begitu sempit di rasakan masyarakat miskin untuk melakukan kebebasan brekpresi serta menuntut Hak-Haknya, kami hanya di ukur dari karakter permasalahan masyarakat atau penyakit masyarakat(streotip) yaitu salah satu bentuk stigma yang saat ini adalah hegemoni kekuasaan , yang nyata-nyata telah membawa rakyat indonesia dalam kondisi kemiskinan dan penderitaan hingga taraf kesadarannya sebagai manusia merdeka. Maka, tugas dari organisasi bukanlah memberi jawaban, tetapi tugasnya adalah untuk menjawab sebuah karakter sistem penindasan yang begitu dahsyat dan kultur hegemoni yang mencekram kemiskinan dan menghantui cita-cita masyarakat miskin indonesia, tugas organisasi yang melandaskan perjuangannya dalam aras-populisme (kerakyatan) adalah suatu butir untuk membebaskan pengertian populisme itu sendiri dari segala upaya pengkaburan, baik dengan kesadaran palsu maupun oleh sebuah oportunisme dan advonturisme politik hegemoni,yang mencengkram tatanan ruang kesadaran masyarakat indonesia. Membebaskanya dengan tindakan dan menempatkannya sebagai program perjuangan dan cita-cita Gerakan Rakyat Miskin Kota .
Sebagai organisasi rakyat miskin, Solidaritas Anak Jalanan Untuk Demokrasi yang di singkat (SALUD) slalu melandaskan gerakannya pada kenyataan situasi tatanan sosial yang di alami Rakyat miskin dan mendoronganya pada situasi kesadaran sosial yang selama ini tidak di sadari oleh para pemegang kekuasaan Otonomi maupun kekuasaan yang tertinggi Negara. Hal ini di lakukan kerena kami mengharapkan adanya perubahan situasi sosial yang terjadi pada rakyat indonesia saat ini, perubahan politik yang terjadi pada lengsernya soeharto pada tahun 1998 banyak masyarakat yang menginginkan adanya perubahan politik pada tahun tersebut perlahan-lahan mengaharapkan menjadi perubahan sosial. kerena pada saat itulah terjadi krisis ekonomi di mana situasi itu benar-benar menghatui sejarah perjuangan Rakyat miskin dengan kebutuhan Sembilan bahan pokok (sembako) yang mencekik leher Rakyat miskin, sangatlah di rasakan oleh Rakyat secara nasional dari Buruh/Petani/Nelayan) dan telah terjadi pada pulau-pulau(propinsi) yang konon akan kaya atas sumber daya alam (SDA) bahkan hingga saat ini rakyat miskin lupa akan sejarah-nya, kerena semuanya hanyalah sebuah propaganda di mana sistem hegemoni slama 32-tahun rezim tiran yang berkuasa. Gerakan 1998 hanya mampu mematahkan sebuah simbol tetapi tidak pada kenyataannya di mana sebuah proses sistem yang kian seperti hantu tetap menguasai kontrol atas kuasa Rakyat terus berjalan bahkan saat ini, keadilan sosial telah hilang dan tak melakat pada perjuangan rakyat miskin. Kami berani untuk menyebutkan-nya 1998” adalah sebuah kegagalan dan di sini kita coba merevitalisasi ulang bahkan dari awal, bahkan dari titik NOL, kita bersama membetuk perubahan yang berpihak pada iklim aspirasi rakyat yang termarjinalkan selama ini, semua ini adalah penegasan Rakyat bahwa upaya melahirkan indonesia yang Berdaulat-Demokratis belum lagi di mulai. Medan perjuangan yang membuka ranah Dealektika dan kebutuhan dasar perjuangan rakyat miskin bukan lagi mengharapkan pada ”reformasi-1998” yang tentu di ikuti pembiasan dan pengkaburan pesan perubahan–membutuhkan perhatian dan tindakan yang Maksimal-Radikal-Evolusioner dari kalangan element masyarakat yang mendukung perjuang rakyat miskin yang di butukan saat ini adalah suatu proses pergerakan dengan tujuan dan cara Revolusioner bukan saja untuk mengakhiri omong-kosong transisi yang di propagandakan oleh sebuah rezim yang sangat tiran dan basa-basi demokrasi kelompok Elit-politik, tapi juga untuk lebih mematrialkan masa proyeksi masyarakat bercirikan Demokrasi yang secara simultan diikuti bangkitnya masyarakat sipil indonesia.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
berpetualang dengan menulis