Jumat, 24 September 1999
DPR tak Peduli, Korban Berjatuhan
Kompas/arbain rambey/hariadi saptono
Jakarta, Kompas
Hanya beberapa saat setelah DPR produk Orde Baru hari Kamis (23/9) di
Jakarta mengetukkan palu untuk menyetujui Rancangan Undang-Undang
Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB) agar diundangkan, ribuan
mahasiswa, buruh, aktivis partai politik, lembaga nonpemerintah dan
profesi serentak bergerak menuju Gedung MPR/DPR Senayan. Tekanan
demonstran yang begitu tinggi dan sengit untuk menolak RUU itu
mengakibatkan bentrokan berdarah, karena tekad mereka merangsek ke
Gedung Dewan Perwakilan Rakyat dihadang aparat. Bentrokan berdarah itu
mengakibatkan puluhan mahasiswa terluka akibat tembakan, injakan,
pukulan dan gas air mata. Sampai berita ini diturunkan pukul 24.00,
belum ada konfirmasi korban yang meninggal dunia.
Bentrok antara demonstran dengan aparat keamanan mengakibatkan puluhan
luka, baik dari pihak demonstran maupun aparat. Beberapa harus dirawat
di unit gawat darurat. Namun jumlah korban luka berat dan ringan masih
sulit dipastikan karena mereka terpencar di berbagai rumah sakit.
Sampai pukul 01.00 Jumat dini hari, mahasiswa masih bertahan di Kampus
Atma Jaya, sementara aparat keamanan dari luar kampus menembaki mereka
dengan gas air mata. Mahasiswa membalas dengan lemparan batu.
Sementara itu, ruas Jl Sudirman masih tertutup dan massa tampak
bergerombol di depan Gedung Bank Danamon. Massa mulai mencabuti
rambu-rambu lalu lintas dan pagar-pagar seng.
Pukul 23.30 sebagian mahasiswa keluar dan melemparkan batu dan bom
molotov. Seorang anggota Pasukan Penindak Rusuh Massa (PPRM) terkena
bom molotov itu dan terbakar pakaiannya di bagian punggung, dan
teman-temannya langsung memadamkannya. Beberapa menit kemudian aparat
langsung menyerbu mahasiswa dengan rentetan tembakan dan pukulan.
Pasukan PPRM kemudian mencoba menerobos pintu gerbang ke arah kampus,
tetapi tertahan oleh lemparan batu dari mahasiswa. Selama beberapa
menit rentetan tembakan berlangsung di tengah kepulan asap tebal gas
air mata.
Pukul 24.00 warga yang bergerombol di depan di sekitar Bank Danamon
dibubarkan secara paksa oleh TNI. Situasi yang mengenaskan ini
mengingatkan pada Tragedi Semanggi bulan November 1998 yang terjadi di
lokasi yang sama.
Sejak pagi
Sejak pagi hari aparat dimobilisasi, tidak saja di sudut-sudut jalan
menuju Kompleks DPR, tetapi juga di daerah pinggiran yang berdekatan
dengan kampus. Sejumlah aktivis yang berkumpul di Rumah Susun
Pejompongan dihampiri ratusan anggota TNI dan dipaksa membubarkan
diri. Namun niat masyarakat untuk menggelar gerakan moral menentang
RUU PKB tetap tidak bisa dicegah.
Kompas/arbain rambey
[BUTTON]
Massa yang telah dipukul mundur dan tercerai-berai di berbagai tempat
berkumpul kembali di Semanggi dan bergerak menuju Senayan. Akumulasi
massa terus bertambah hingga seluruh jalan tol dari Semanggi sampai
jalan layang Taman Ria dipenuhi ribuan orang. Pengunjuk rasa bergerak
dengan semangat tinggi.
Sembari bernyanyi, meneriakkan yel-yel, memukul-mukul pagar jalan tol,
mereka bergerak mendekati barikade aparat di bawah jalan layang Taman
Ria. Berbagai poster anti-militerisme, tidak sedikit di antaranya
bernada caci maki, diarak massa.
Massa Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred)
membuka barisan dari arah Semanggi dengan membawa keranda bertuliskan
"Turut Berduka Cita atas Matinya Hak Asasi Manusia", dua karangan
bunga, dan sebuah boneka dengan poster "Habibie-Wiranto Crimes Against
Humanity". Di belakangnya menyusul buruh yang tergabung dalam Serikat
Buruh Seluruh Indonesia (SBSI), Gerakan Mahasiswa Pancasila untuk
Reformasi, mahasiswa Muhammadiyah, mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah
yang bergabung dengan aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan
lembaga-lembaga nonpemerintah, Gerakan Mahasiswa Pancasila untuk
Reformasi (Gempur), dan lain-lainnya.
Pagi hari sejumlah kecil aktivis PDI Perjuangan menggelar aksi di
Perumahan DPR di Kalibata, mencoba menghambat wakil-wakil rakyat
menuju Gedung DPR. Tetapi ternyata para anggota DPR telah diinapkan di
Hotel Mulia, hotel mewah berbintang lima. Sedangkan sejumlah pengurus
Partai Amanat Nasional (PAN) seperti Faisal Basri dan Bara Hasibuan
ikut bergabung dengan demonstran.
Bentrok di Slipi
Ketika mahasiswa lain bergerak dari arah Semanggi ke Gedung DPR,
sekitar 700 mahasiswa dan warga masyarakat sudah bersiap menembus
barikade di persimpangan Jl Palmerah Barat dan Slipi. Demo menjadi
panas setelah lontaran batu sebesar kepalan tangan mengarah ke arah
aparat. TNI masih diam tidak membalas. Begitu ada lontaran bom
molotov, aparat mulai menembakkan gas air mata.
Akibatnya, demonstran cerai-berai, tetapi mereka masih berusaha
membalas dengan melemparkan batu. Aparat yang terus merangsek maju
berhasil membubarkan kerumunan dan mulai mengejar demonstran. Korban
luka dalam bentrokan di sini berjumlah belasan orang. Dua di antaranya
sangat parah akibat pukulan dan tendangan.
Pada bentrokan itu jatuh korban luka-luka. Seorang yang luka parah di
bagian kepala bernama Kuswara. Ada sembilan mahasiswa yang terluka
cukup parah. Mereka disuruh duduk berjejer di trotoar sebelum diangkut
mobil sipil Toyota Kijang bernomor polisi B 7605 RA.
Ketika situasi sudah agak reda, dan mahasiswa serta massa sudah
membubarkan diri, 23 mahasiswa/mahasiswi ketahuan aparat keamanan
bersembunyi di rumah kosong, di samping gedung BII di Jl Palmerah
Utara. Mereka lalu diangkut menggunakan truk milik Kepolisian Resor
Jakarta Barat. Mahasiswa dari Universitas Nasional dan Universitas
Widuri ini bersembunyi di rumah kosong itu saat aparat memukul mundur
demonstran. Salah seorang mahasiswi bernama Enggar, menjerit histeris
karena shock, saat aparat keamanan menggeledah tempat persembunyian
mereka.
Demikian juga dua mobil, yakni Toyota Kijang bernomor polisi B 1255 SM
dan Isuzu Panther bernomor polisi B 1463 YZ yang semula diduga memuat
bom molotov, tetapi ternyata memuat logistik, dibawa dari halaman
kantor BII itu.
Kedua unit kendaraan yang diamankan Polres Jakarta Barat itu ternyata
berisi lima kardus minuman kemasan dalam gelas plastik dan tiga
kantung plastik besar berisi nasi bungkus, selain beberapa ransel/tas
berisi pakaian. Dari salah satu tas ditemukan sebuah disket kecil yang
labelnya bertuliskan Program Kerja Solidaritas Anak Jalanan untuk
Demokrasi dan sejumlah stiker anti-UU PKB.
Bentrok di Senayan
Semula gerakan massa yang bergerak dari arah Senayan berlangsung
damai. Namun menjelang sore hari (sekitar dua jam setelah bentrokan di
Slipi) sejumlah massa yang terpisah dari mahasiswa mulai
mempersenjatai diri dengan mencabuti pagar besi.
Sekonyong-konyong sekitar pukul 16.30 muncul provokasi ke arah aparat
yang disusul serentetan lemparan batu dari arah mahasiswa. Seolah-olah
lemparan batu itu menjadi komando aparat untuk menyerbu. Aparat
langsung melepaskan tembakan gas air mata ke arah mahasiswa. Massa pun
tercerai-berai. Namun arah angin berpihak pada massa mahasiswa. Tiupan
gas air mata justru berbalik ke arah aparat. Dentuman dan rentetan
tembakan hanya berhasil mengundurkan massa mundur beberapa ratus
meter. Begitu angin yang bercampur gas air mata berbalik ke arah
aparat, mereka maju kembali.
Pada saat mahasiswa mengundurkan diri, sebuah mobil Kijang B 235 NF
milik aparat dibakar di tengah massa. Hampir sama dengan peristiwa
Semanggi, mahasiswa melawan hujan gas air mata dengan menyemprotkan
air hidran. Massa mundur saat aparat mendatangkan mobil penyemprot air
kimia menembaki mahasiswa dengan peluru karet. Perlawanan dari pihak
mahasiswa tidak kalah sengit. Mereka mendekati mobil penyemprot air
kimia itu dan melemparkan bom molotov. Lidah api segera menjilat ke
tubuh kendaraan lapis baja tersebut, namun dalam waktu singkat padam
kembali.
Perlawanan terhadap aparat juga dilakukan mahasiswa yang didukung
massa rakyat dari arah Kompleks TNI AL. Mereka terlibat perang batu
dengan aparat. Sementara masyarakat penonton bertepuk tangan saat
aparat terdesak. "Beraninya sama rakyat sendiri. Kalau emang berani,
lawan tuh tentara Australia," teriak seorang warga.
Menurut Kapuskodalops (Kepala Pusat Pengendalian dan Operasional)
Polda Metro Jaya, Kolonel (Pol) Sunarko, seluruh pasukan yang ada di
Polda Metro Jaya kemarin diturunkan. "Termasuk pasukan yang baru saja
melekat ke Polda Metro tadi pagi," kata Sunarko. (Tim Kompas)